Rabu, 02 November 2011

Penyebab Tunagrahita

Tunagrahita dapat disebabkan oleh beberapa faktor
(Kaplan, 1997) yaitu:
a.       Genetik (kromosom dan bawaan)
1)      Sindroma down (mongoloid) dengan karakteristik mata yang sipit, lipatan epikantus, dan hidung yang pesek. Terdapat persetujuan tentang beberapa faktor penyebab dalam gangguan kromosom, diantaranya yaitu bertambahnya usia ibu, kemungkinan bertambahnya usia ayah, dan radiasi sinar-X. Menurut banyak
sumber, pasien dengan sindroma down adalah tenang, riang dan bekerja sama yang mempermudah  penyesuaian diri mereka dirumah. Gambaran tampaknya berubah pada masa remaja yang mungkin mengalami berbagi kesulitan emosional, gangguan perilaku, dan kemungkina kecil gangguan psikotik. Orang dengan sindroma down menunjukkan pemburukan yang jelas dalam bahasa, daya ingat, keterampilan merawat diri sendiri, dan memecahkan masalah dalam usia 30 tahunan.
2)      Sindroma X rapuh merupakan penyebab tunggal kedua yang tersering pada tunagrahita. Sindroma ini disebabkan dari mutasi pada kromosom X yang diketahui sebagai tempat rapuh. Fenotip yang tipikal adalah kepala yang besar dan panjang, perawakan pendek, sendi hiperekstensif, dan makro-orkhidisme pascapubertal. Derajat tunagrahita terentang dari ringan sampai berat. Ciri perilaku orang dengan sindroma ini adalah tingginya angka gangguan defisit atensi/hiperaktivitas, gangguan belajar, dan gangguan perkembangan pervasif, seperti gangguan autistic. Defisit dalam fungsi bahasa adalah pembicaraan yang cepat dan perseveratif dengan kelainan mengkombinasikan kata-kata membentuk frase dan kalimat. Orang dengan sindroma X rapuh tampaknya memiliki keterampilan dalam komunikasi dan sosialisasi yang relative kuat, dan fungsi intelektual mereka tampaknya menurun dalam periode pubertal.
3)      Sindroma Prader-Willi, merupakan akibat dari penghilangan kecil pada kromosom 15, biasanya terjadi secara sporadik. Orang-orang dengan sindroma ini menunjukkan perilaku makan yang kompulsif dan seringkali obesitas, tunagrahita, hipogonadisme, perawakan pendek, hipotonia, dan tangan dan kaki yang kecil. Anak-anak dengan sindroma ini seringkali memiliki perilaku oposisional yang menyimpang.
4)      Sindroma tangisan kucing (cat cry syndrome). Anak-anak dengan sindroma ini kehilangan bagian kromosom 5. mereka mengalami seringkali disertai dengan penyimpangan kromosom, seperti mikrosefali, telinga yang letaknya rendah, fisura palpebraoblik, hipertelorisme, dan mikrognatia. Tangisan seperti kucing yang karakteristik, disebabkan oleh kelainan laring, dan sindroma ini menghilang seiring dengan bertambahnya usia.
b.      Faktor genetik lain:
1)      Femilketonuria (PKU), merupakan gangguan metabolisme bawaan. Sebagian besar pasien dengan PKU mengalami tingkat keparahan tunagrahita yang berat, tetapi beberapa dilaporkan mengalami kecerdasan yang normal. Ekserma, kejang dan muntah ditemukan pada sepertiga kasus. Gambaran anak dengan PKU adalah hiperaktif  dan menunjukkan gerakan yang aneh pada tubuhnya dan anggota gerak atas dan manerisme memuntir tangan, dan perilaku mereka terkadang menyerupai anak yang autistic dan schizofrenik. Komunikasi verbal dan nonverbal  biasanya terganggu parah atau tidak ditemukan. Koordinasi anak adalah buruk, dan mereka memiliki banyak kesulitan perceptual.
2)      Gangguan Rett, merupakan sindroma tunagrahita dominant terkait-X yang degeneratif dan hanya mengenai wanita. Pemburukan keterampilan komunikasi perilaku motorik, dan fungsi sosial dimulai pada usia 1,5 tahun. Gejala autistik dan ataksia sering ditemukan.
3)      Neurofibromatosis, merupakan sindroma neurokutaneus yang paling sering disebabkan oleh gen dominant tunggal. Gangguan ini mungkin diturunkan, atau mungkin juga karena mutasi yang baru. Ditemukan pada sepertiga dari penderita tunagrahita taraf ringan.
4)      Sklerosis tuberosis merupakan sindrom neurokutaneus yang kedua yang tersering. Angka autisme yang lebih tinggi dibandingkan gangguan intelektual akan menyebabkan orang memperkirakan gangguan ini.
5)      Sindroma Lesch-Nyhan, merupakan suatu gangguan yang jarang disebabkan oleh defisiensi suatu enzim yang terlibat dalam metabolisme purin. Sindroma ini disertai dengan mutilasi diri kompulsif yang parah dengan menggigit mulut dan jari-jari.
6)      Adrenoleukodistrofi, ditandai oleh demielinasi difus pada materi putih serebral, yang menyebabkan gangguan visual dan intelektual, kejang, spastisitas, dan perkembangan menuju kematian. Onset klinis biasanya antara 5 dan 8 tahun, dengan kejang awal, gangguan gaya berjalan, dan gangguan intelektual ringan.
7)      Penyakit urin sirup maple, gejala klinis dari penyakit urin sirup maple tampak selama minggu pertama kehidupan. Bayi memburuk dengan cepat dan mengalami rigiditas deserebrasi, kejang, iregularitas pernapasan, dan hipoglikemia.
8)      Gangguan defisiensi enzim lain.
c.       Pada masa sebelum kelahiran (pra-natal)
1.      Infeksi Rubella (cacar Jerman), Rubella telah menggantikan sifilis sebagai penyebab utama malformasi congential dan tunagrahita yang disebabkan oleh infeksi maternal. Anak-anak dari ibu yang terkena menunjukkan sejumlah kelainan, termasuk penyakit jantung congential, tunagrahita, katarak, ketulian, mikrosefali, dan makroftalmia.
2.      Penyakit inklusi sitomegalik, anak-anak dengan tunagrahita dari penyakit ini  seringkali memiliki klasifikasi serebral, mikrosefali, atau hidrosefalus. Diagnosis ditegakkan dengan temuan virus yang positif pada kultur tenggorok urin dengan ditemukannya sel mengandung inklusi dalam urin.
3.      Sifilis, sifilis pada wanita hamil dahulu merupakan penyebab utama berbagai perubahan neuropatologis pada keturunannya, termasuk tunagrahita. Sekarang, insidensi komplikasi sifilitik berfluktuasi tergantung insidensi sifilis pada populasi umum.
4.      Toxoplasmosis, dapat ditransmisikan dari ibu kepada janinnya. Penyakit ini menyebabkan tunagrahita ringan atau berat, dan pada kasus yang berat, meyebabkan hidrosefalus, kejang, mikrosefali, dan korioretinitis.
5.      Herpes simpleks, dapat ditransmisikan transplasental, walaupun cara yang paling sering adalah selama kelahiran. Mikrosefali, tunagrahita, klasifikasi intracranial, dan kelainan ocular dapat terjadi.
6.      Sindroma AIDS, banyak janin dari ibu dengan AIDS tidak pernah cukup bulan karena terjadi lahir mati dan abortus spontan. Pada mereka yang dilahirkan terinfeksi virus HIV sampai sepenuhnya mengalami ensefalopati progresif, tunagrahita, dan kejang dalam tahun pertama kehidupan.
7.      Sindroma alcohol janin, dapat terdiri dari tunagrahita da gambaran fenotipik tipikal berupa dismorfisme fasial yang termasuk hipertelorisme, mikrosefall, fisura palpebra yang pendek, lipatan epikantus bagian dalam, dan hidung yang pendek dan mengarah ke atas. Seringkali, anak yang terkena, mengalami gangguan belajar dan gangguan defisit atensi/hiperaktivitas.
8.      Pemaparan zat prenatal, pemaparan prenatal seperti heroin, oplate, seringkali menyebabkan seorang bayi yang kecil untuk usia kehamilannya, dengan lingkaran kepala di bawah persentil ke-10 dengan gejala putus zat yang bermanifestasi dalam dua hari pertama kehidupannya. Gejala putus zat pada bayi adalah iritabilitas, hipertonia, tremor, muntah, tangisan dengan nada tinggi, dan kelainan pola tidur.
9.      Penyulit kehamilan, toksemia pada kehamilan dan diabetes maternal yang tidak terkendala memberikan bahaya bagi janin dan kadang-kadang menyebabkan tunagrahita.
d.      Pada saat kelahiran (perinatal)
Tunagrahita yang disebabkan oleh kejadian yang terjadi saat kelahiran adalah luka-luka pada saat kelahiran, sesak nafas (asphyxia), dan lahir prematur.
e.       Pada saat setelah lahir (post-natal)
Penyakit-penyakit akibat infeksi misalnya; meningitis (peradangan pada selaput otak) dan problema nutrisi (kekurangan gizi, misalnya kekurangan protein yang diderita bayi dan awal masa kanak-kanak), cedera kepala yang disebabkan karena kendaraan bermotor yang dapat menyebabkan kecacatan mental.
f.       Faktor Sosiokultural
Sosiokultural atau sosial budaya lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan intelektual manusia. Di satu sisi faktor kebudayaan memang mempunyai sumbangan positif dalam membangun kemampuan psikofisik dan psikososial anak secara baik, namun apabila faktor-faktor tersebut tidak berperan baik, tidak menutup kemungkinan berpengaruh terhadap psikofisik dan psikososial anak. Tunagrahita biasanya secara bermakna menonjol di antara orang yang mengalami gangguan cultural, kelompok sosioekonomi rendah, dan banyak saudaranya yang terkena tunagrahita dengan derajat yang serupa. Kehamilan pada remaja juga sering menjadi penyebab tunagrahita.

            Sedangkan menurut Kirk (dalam Effendi, 2006), penyebab tunagrahita yaitu karena faktor endogen, yaitu faktor ketidaksempurnaan psikobiologis dalam memindahkan gen (hereditary transmission of psycho-biologicalinsufficiency) dan faktor eksogen, yaitu faktor yang terjadi akibat perubahan psikologis dari perkembangan mental.
            Dari sisi pertumbuhan dan perkembangan, pemyebab ketunagrahitaan menurut Devenport (dalam Efendi, 2006) dapat dirinci melalui jenjang berikut:
a.     Kelainan atau ketunaan yang timbul pada benih plasma,
b.    Kelainan atau ketunaan yang dihasilkan selama penyuburan telur,
c.     Kelainan atau ketunaan yang dikaitkan dengan implantasi,
d.    Kelainan atau ketunaan yang timbul dalam embrio,
e.     Kelainan atau ketunaan yang timbul dari luka saat kelahiran,
f.     Kelainan atau ketunaan yang timbul dalam janin,
g.    Kelainan atau ketunaan yang timbul pada bayi dan kanak-kanak.

            Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa penyebab tunagrahita adalah berasal dari faktor genetik dan kelainan kromosom yang terjadi pada masa pra-natal , pada masa peri-natal seperti adanya sesak nafas dan lahir prematur, pada masa post-natal seperti infeksi atau meningitis dan defisiensi nutrisi, serta faktor sosiokultural seperti keberhasian yang terjadi pada usia remaja.



SUMBER :
American Psychiatric Association. 1994. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM IV) (4th ed.). Washington D.C: APA.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2000. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia. Edisi ke-III. Jakarta:Direktorat Kesehatan Jiwa.
Effendi, M. (2006). Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan. Jakarta : PT.Bumi Aksara.
Hendriani, W., Handariyati, R. & Sakti Malia, T. Jurnal, (Insan Vol.8 No. 2, Agustus 2006). Penerimaan Keluarga Terhadap Individu yang Mengalami Keterbelakangan Mental. Surabaya : Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar